Mbay, smkn1aesesa- Ratusan siswa/siswi SMKN 1 Aesesa, Kecamatan Aesesa, kabupaten Nagekeo meminta agar pihak sekolah menyiapkan tenda darurat untuk proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di halaman sekolah bisa berjalan dengan baik.
Harapan bisa belajar di luar kelas menjadi efektif, mengingat sebagian gedung kelas untuk 12 kompetensi keahlian mengalami retak dan plafon yang roboh akibat gempa dengan kekuatan Magnitudo 7.7 pada 15 Agustus 2026 lalu.
Peristiwa itu, membuat banyak Siswa dan guru SMKN 1 Aesesa harus menelan rasa takut dan trauma yang terus menghantui pikiran mereka akibat gempa dahsyat dan gempa susulan yang terus menerus masih terasa.
Pihak SMKN 1 Aesesa terus berusaha mencari dan menemukan solusi agar siswa bisa kembali menemukan kembali jati diri mereka dan bangkit dari situasi pasca gempa.
Meski masih merasakan trauma, Kepala sekolah, SMKN 1 Aesesa, Theresia Uta mengungkapkan bahwa, banyak sebagian siswa yang takut untuk datang ke sekolah, mereka memilih bertahan di posko pengungsian dan tenda pengungsian mandiri bersama orang tua dan keluarga.
"Mungkin, selain tenda darurat yang kami butuhkan, kami pihak sekolah juga sangat membutuhkan tim trauma healing ataupun tim medis yang menangani khusus agar siswa tidak trauma lagi,"ujarnya.
Selain itu, Kepsek Theresia juga menambahkan, di setiap pelajaran perlu di isi materi atau edukasi dari pihak BPBD, terkait simulasi dalam menghadapi gempa dan tsunami.
"Itu yang menjadi harapan kami, sehingga para siswa dibekali dengan materi edukasi dan simulasi dalam menghadapi gempa dan tsunami ini,"katanya.
Untuk proses kegiatan belajar mengajar, Theresia mengaku saat ini terdapat 37 Kompetensi keahlian (komli) yang harus belajar di tenda darurat.
Dengan tenda darurat bantuan dari Kemendikdasmen, menurutnya belum cukup untuk menampung para siswa untuk belajar.
"Kami dapat tenda darurat dari Kemendikdasmen, tapi belum cukup. Di sini ada 37 komli. Jadi yang di butuhkan 37, belum lagi untuk guru. Muda-mudahan dalam waktu dekat ini, kami bisa dapat dari Dinas Pendidikan Provinsi,"harapnya.
Menurut Theresia, pendidikan dalam situasi bencana saat ini bukan semata-mata meminta bantuan, namun lebih pada mewujudkan mimpi dan cita-cita anak bangsa.